Jum’at, 23 Agustus 2013, kami
berkumpul di depan perpustakaan pusat ITB untuk dimobilisasi menuju lapangan
Saraga. Disana kami melakukan olahraga pagi yang kemudian dilanjutkan dengan
pembentukan formasi #untukindonesia.
Setelah dari lapangan Saraga, kami
kembali dimobilisasi menuju auditorium Sabuga. Disana kami mendapatkan materi
K3L. Setelah itu, ada perkenalan singkat dari tiap-tiap unit yang ada di ITB,
atau disebut dengan Defile OHU.
Defile OHU dimulai dengan
perkenalan dari rumpun agama, kemudian rumpun keilmuan dan pendidikan, rumpun
seni dan budaya, dan ditutup dengan perkenalan dari rumpun olahraga dan
kesehatan.
Acara hari itu tidak berakhir
disitu, karena setelah Defile OHU, masih ada seminar dengan beberapa pembicara.
Diantaranya adalah bapak Gita Wirjawan dan ibu Tri Mumpuni. Acara seminar ini
dimoderatori oleh Putri Indonesia 2011, yang mana merupakan salah satu
mahasiswi ITB, Maria Selena.
Seminar dibuka dengan menyayikan
lagu kebangsaan Indonesia, Indonesia Raya. Setelah itu, kata sambutan masing-masing
diberikan oleh Benito Reyhan, selaku sekjend OSKM 2013. Dilanjutkan oleh Nyoman
Anjani, selaku Presiden KM ITB. Dan sambutan terakhir diberikan oleh Bapak
Kadarsah selaku Wakil Rektor ITB.
Pembicara pertama adalah Bapak
Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan RI sekaligus ketua umum PBSI. Beliau
berbicara kepada Butet/Owi pada gelaran Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis di
Guangzhou China, “If you want it, you’ll get it”, sehingga akhirnya semangat
Butet/Owi terbakar dan akhirnya berhasil membawa pulang medali emas.
Sebenarnya, kesuksesan itu sudah ada didepan mata kita, namun tergantung
seberapa besar kita menginginkannya dan berusaha mewujudkannya.
Perekonomian Indonesia
membutuhkan pemuda-pemuda yang memiliki kearifan lokal sehingga tidak
menghilangkan adat istiadat atau budaya di dalam suatu daerah. Sebuah bangsa
seharusnya memiliki 4 aspek yaitu:
1. Kemahiran Teknologi
2.Kesinambungan Demokrasi
3.Kekayaan Budaya
4.Kemajuan Ekonomi
Beliau berpesan diakhir
seminarnya, “We have to be nationalistic, but at the same time
internationalistic.” Semoga mahasiswa/i ITB bisa menjadi generasi penerus
bangsa yang bisa memajukan negaranya!
Selanjutnya adalah seminar dari WANADRI.
WANADRI merupakan organisasi pecinta alam yang berpetualang di alam bebas.
Wanadri telah melakukan pendakian terhadap tujuh gunung tertinggi dunia, salah
satunya adalah gunung Everest.
Indonesia adalah negara yang
sangat kaya akan keindahan alamnya. Selama ini Indonesia dikenal sebagai negara
kepulauan. Namun kenyataannya Indonesia adalah negara maritim yang mempunyai
lebih banyak laut daripada daratan. Dengan adanya Deklarasi Djuanda Indonesia
dianggap sebagai suatu negara kesatuan. Setelah Deklarasi Juanda Indonesia 3
kali lebih besar daripada sebelumnya.
Sebagai penutup, mereka
berpesan bahwa kita harus melaksanakan 3S, sadar diri, sadar lingkungan, dan
sadar tujuan. Maka dari itu jadilah kita bangsa yang cinta tanah air. Merdeka!
Pembicara
selanjutnya adalah Ibu Tri Mumpuni. Beliau berkata, setiap orang memiliki
integritas dan kompetensi. Ada 2 hal yang diperlukan oleh setiap manusia, yaitu
pengetahuan/logika dan perasaan/empati. Bagaimana caranya agar logika dan
empati terus berkomunikasi? Allah menciptakan otak untuk berpikir, namun hati
untuk merasakan. Jadi, jangan pernah kita berpikir tanpa perasaan.
Beliau adalah penggagas pemasok
listrik ke daerah-daerah terpencil di Indonesia. Sudut pandang ibu Mumpuni
membuat kita melihat negara Indonesia dari sisi yang lain. Indonesia bukanlah
sebuah negara besar, namun adalah negara yang sangat kecil sehingga setiap
hal-hal yang kita lakukan akan menimbulkan dampak bagi masyarakat lain. Dengan
ini, kita diharapkan agar dapat bersama-sama membangun bangsa ini menjadi lebih
besar dan tentunya maju.
Pembicara terakhir dari seminar
ini adalah Saskha, salah satu alumni ITB. Kak Saskha bercerita tentang
penelitiannya dibidang teknologi, sosial, ekonomi, dan media yang disebut
dengan Riset Indie. Project pertama yang dilakukannya adalah project polaroid. Kak
saskha dan timnya terinspirasi dari sekelompok orang yang membeli sebuah
perusahaan kamera polaroid yang sudah bangkrut karena terkikis oleh kamera
digital dan meneliti ulang segala hal yang berhubungan dengan kamera polaroid
untuk mengabadikan film analog agar tidak punah.
Project keduanya adalah alinea. Alinea
adalah sebuah proyek animatronik berbentuk alien bernama alinea. Proyek ini
didasari dengan prinsip kolaborasi diantara orang-orang yang mahir dibidangnya
seperti mesin, pahat, lukis, robotik dsb yang mendukung pembuatan robot ini.
Project ketiganya adalah “Angkot
Day”. Kak Saskha terinspirasi oleh angkot yang suka ngetem dan berhenti
sembarangan sehingga menimbulkan kemacetan. Project ini akan dilaksanakan pada
20 September 2013 dimana semua angkutan jurusan Kalapa-Dago akan bisa digunakan
dengan nyaman, aman, dan tentunya gratis!
Nama : Nurwida Rizki Ramadhani
NIM : 16613192
Fakultas: FTSL

No comments:
Post a Comment