Saturday, 24 August 2013

Resume Defile OHU dan Seminar



Jum’at, 23 Agustus 2013, kami berkumpul di depan perpustakaan pusat ITB untuk dimobilisasi menuju lapangan Saraga. Disana kami melakukan olahraga pagi yang kemudian dilanjutkan dengan pembentukan formasi #untukindonesia.

Setelah dari lapangan Saraga, kami kembali dimobilisasi menuju auditorium Sabuga. Disana kami mendapatkan materi K3L. Setelah itu, ada perkenalan singkat dari tiap-tiap unit yang ada di ITB, atau disebut dengan Defile OHU.

Defile OHU dimulai dengan perkenalan dari rumpun agama, kemudian rumpun keilmuan dan pendidikan, rumpun seni dan budaya, dan ditutup dengan perkenalan dari rumpun olahraga dan kesehatan.

Acara hari itu tidak berakhir disitu, karena setelah Defile OHU, masih ada seminar dengan beberapa pembicara. Diantaranya adalah bapak Gita Wirjawan dan ibu Tri Mumpuni. Acara seminar ini dimoderatori oleh Putri Indonesia 2011, yang mana merupakan salah satu mahasiswi ITB, Maria Selena.

Seminar dibuka dengan menyayikan lagu kebangsaan Indonesia, Indonesia Raya. Setelah itu, kata sambutan masing-masing diberikan oleh Benito Reyhan, selaku sekjend OSKM 2013. Dilanjutkan oleh Nyoman Anjani, selaku Presiden KM ITB. Dan sambutan terakhir diberikan oleh Bapak Kadarsah selaku Wakil Rektor ITB.

Pembicara pertama adalah Bapak Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan RI sekaligus ketua umum PBSI. Beliau berbicara kepada Butet/Owi pada gelaran Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis di Guangzhou China, “If you want it, you’ll get it”, sehingga akhirnya semangat Butet/Owi terbakar dan akhirnya berhasil membawa pulang medali emas. Sebenarnya, kesuksesan itu sudah ada didepan mata kita, namun tergantung seberapa besar kita menginginkannya dan berusaha mewujudkannya.

Perekonomian Indonesia membutuhkan pemuda-pemuda yang memiliki kearifan lokal sehingga tidak menghilangkan adat istiadat atau budaya di dalam suatu daerah. Sebuah bangsa seharusnya memiliki 4 aspek yaitu:
1. Kemahiran Teknologi
2.Kesinambungan Demokrasi
3.Kekayaan Budaya
4.Kemajuan Ekonomi
               
                Beliau berpesan diakhir seminarnya, “We have to be nationalistic, but at the same time internationalistic.” Semoga mahasiswa/i ITB bisa menjadi generasi penerus bangsa yang bisa memajukan negaranya!

Selanjutnya adalah seminar dari WANADRI. WANADRI merupakan organisasi pecinta alam yang berpetualang di alam bebas. Wanadri telah melakukan pendakian terhadap tujuh gunung tertinggi dunia, salah satunya adalah gunung Everest.

Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan keindahan alamnya. Selama ini Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan. Namun kenyataannya Indonesia adalah negara maritim yang mempunyai lebih banyak laut daripada daratan. Dengan adanya Deklarasi Djuanda Indonesia dianggap sebagai suatu negara kesatuan. Setelah Deklarasi Juanda Indonesia 3 kali lebih besar daripada sebelumnya.

         Sebagai penutup, mereka berpesan bahwa kita harus melaksanakan 3S, sadar diri, sadar lingkungan, dan sadar tujuan. Maka dari itu jadilah kita bangsa yang cinta tanah air. Merdeka!

                Pembicara selanjutnya adalah Ibu Tri Mumpuni. Beliau berkata, setiap orang memiliki integritas dan kompetensi. Ada 2 hal yang diperlukan oleh setiap manusia, yaitu pengetahuan/logika dan perasaan/empati. Bagaimana caranya agar logika dan empati terus berkomunikasi? Allah menciptakan otak untuk berpikir, namun hati untuk merasakan. Jadi, jangan pernah kita berpikir tanpa perasaan.

Beliau adalah penggagas pemasok listrik ke daerah-daerah terpencil di Indonesia. Sudut pandang ibu Mumpuni membuat kita melihat negara Indonesia dari sisi yang lain. Indonesia bukanlah sebuah negara besar, namun adalah negara yang sangat kecil sehingga setiap hal-hal yang kita lakukan akan menimbulkan dampak bagi masyarakat lain. Dengan ini, kita diharapkan agar dapat bersama-sama membangun bangsa ini menjadi lebih besar dan tentunya maju.

Pembicara terakhir dari seminar ini adalah Saskha, salah satu alumni ITB. Kak Saskha bercerita tentang penelitiannya dibidang teknologi, sosial, ekonomi, dan media yang disebut dengan Riset Indie. Project pertama yang dilakukannya adalah project polaroid. Kak saskha dan timnya terinspirasi dari sekelompok orang yang membeli sebuah perusahaan kamera polaroid yang sudah bangkrut karena terkikis oleh kamera digital dan meneliti ulang segala hal yang berhubungan dengan kamera polaroid untuk mengabadikan film analog agar tidak punah.

Project keduanya adalah alinea. Alinea adalah sebuah proyek animatronik berbentuk alien bernama alinea. Proyek ini didasari dengan prinsip kolaborasi diantara orang-orang yang mahir dibidangnya seperti mesin, pahat, lukis, robotik dsb yang mendukung pembuatan robot ini. 

Project ketiganya adalah “Angkot Day”. Kak Saskha terinspirasi oleh angkot yang suka ngetem dan berhenti sembarangan sehingga menimbulkan kemacetan. Project ini akan dilaksanakan pada 20 September 2013 dimana semua angkutan jurusan Kalapa-Dago akan bisa digunakan dengan nyaman, aman, dan tentunya gratis!

Nama   : Nurwida Rizki Ramadhani
NIM     : 16613192
Fakultas: FTSL

No comments:

Post a Comment