Resume Seminar dan Defile
Hari ini sebagian besar dari waktu para Mahasiswa Baru Itb 2013, dihabiskan
dalam gedung sabuga untuk mendengarkan berbagai macam informasi, mulai dari
penjelasan K3L, Unit-unit yang terdapat di kampus, kemudian dilanjutkan dengan
seminar dari berbagai figur inspiratif. Pertama-tama
kami mendengarkan penjelasan mengenai K3L, singkatan dari Keamanan, Kesehatan
Kerja dan Lingkungan. K3L adalah lembaga yang menjaga ketertiban pada kampus
ITB, kita mendapatkan penjelasan mengenai cara bersikap saat ada bencana alam ,
dan kebakaran. Kita juga diberitahu tentang patroli, aturan parkir sekitar
kampus, dan hal lain seputar peraturan di ITB.
Kemudian kami diberi tahu mengenai berbagai macam Unit
yang terdapat dalam ITB, berhubung terdapat 80 unit dan waktu terbatas, kami
hanya mendapat informasi sebagian mengenai unit-unit tersebut. Namun, akan
diadakan OHU (Open House Unit) pada tanggal 1 September untuk memberi gambara
jelas kepada Mahasiswa Baru mengenai unit-unit tersebut.
Setelah itu seminar OSKM pun dimulai, dimana ditampilkan
empat narasumber, yaitu Gita Wirjawan (Menteri Perdagangan Republik Indonesia),
Indra Hidayat, Tri Mumpuni W, dan Seterhen Akbar S.
Seminar
Sesi Pertama
Oleh Gita Wirjawan
Salah satu visi dari seminar tersebut adalah mewujudkan dan menanamkan
sifat kemahasiswaan berdasarkan kearifan lokal pada kami para penerus bangsa. Pada
saat ini, Indesia memerlukan pemimpin yang peduli bangsa, seseorang yang peduli
kearifan lokal. Kita membutuhkan seorang pemimpin yang bisa jawab tantangan bangsa,
juga responsif terhadap permintaan rakyat
Indonesia dalam sisi ekonomi, sekarang memiliki pdb 4000 US dollar,
mendekati tipping point. Jika kita bisa melewati tipping point itu kita dengan
bangga bisa keluar dari middle income prep, menyusul negara-negara maju. Jika
kita berhasil menaikkan pendapatan negara sebanyak 6% saja, seharusnya negeri
sudah bisa makmur. Namun sayangnya hal itu susah dicapai, apalagi dengan konsumsi
negara kita terhadap produk luar yang tinggi, 20% dari pdb, sekitar 360 ribu
trilyun rupiah dihabiskan untuk menikmati produk luar, bukannya produk lokal.
Memulai wirausaha pun susah, apalagi dengan tingginya bunga yang
meyulitkan para calon wirausahawan memulai usaha mereka. Padahal banyak pasti
banyak wirausahawan yang ingin memperbanyak produk lokal
Sebenarnya potensi dan kekayaan negara kita melimpah. Bila kita mau berusaha
dan diizinkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, Indonesia bisa melakukan transformasi
pesat. Secara geografis kita terletak pada jalur ekonomi dunia, dekat pada
negeri Asia lainnya. Banyak tetangga sesama Asia kita mempelajari bahasa kita
dengan tujuan bisnis, dengan tujuan wirausaha memakmurkan negara mereka,
mengapa kita tak melakukan hal yang sama? Hal itu mungkin karena kita terlalu
mudah puas dengan keadaan yang sudah ada.
Padahal negara kita memiliki kemajuan ekonomi yang lebih beruntung
dari sebagaian negara lain. Penelitian dan penjelajahan menunjukkan bahwa
negeri kita memiliki banyak potensi geo-termal, kekayaan laut yang melimpah,
gunung-gunung dan lokasi lain yang belum terekspidisi. Selain kekayaan alam,
kita juga memiliki penerapan demokrasi, kekayaan budaya yang melimpah, banyak
sekali potensi yang bisa digali. Harus kita akui, Indonesia sedikit tertinggal
dibandingkan negara lain dalam bidang teknologi, namun Indonesia sekarang telah
memfokuskan sebagian besar dananya untuk kepentingan pendidikan bangsa, dengan
harapan bisa menghilangkan ketertinggalan tersebut. Selain pendidikan kami juga
harus mulai mengekspor budaya, agar budaya kita tak pudar juga dapat membuat
penduduk dunia tahu dengan produk lokal kita.
Seminar
Sesi Kedua
Oleh Indra Hidayat
"Cinta Tanah Air", itulah kata pertama yang kudengar dari
Indra Hidayat. Beliau adalah ketua dari Wanadri. Wanadri adalah sebuah lembaga
yang berani mejelajahi berbagai pelosok negeri ini. Lembaga ini mempelajari
potensi yang ada pada negeri kita. Ia juga menghimbau bahwa kita harus sadar
diri, sadar lingkungan dimanapun kita berada. Kita harus memikirkan bagaimana
kita bisa berkontribusi pada wilayah yang kita jelajah, memanfaaatkan potensi
dari alam yang telah tersedia.
Seminar Sesi Ketiga
Oleh Tri Mumpuni W.
Pada perekonomian Indonesia masa kini, ekonomi sudah menjadi kepentingan
modal dan teknologi pribadi. Banyak wirausahawan yang tak lagi memerhatikan
kepentingan lokal dan dukung setempat, yang mereka pikirkan adalah 'bagaimana
saya bisa mendapatkan keuntungan terbesar?'
Banyak kasus dimana suatu bisnis, perusahaan, dan semacamnya
memanfatkan daerah lokal Indonesia. Seharusnya sambil mengambil sumber daya
lokal, mereka mensejahterakan pendudukan lokal. Namun sayangnya bisnis, dan perusahaan
yang mengambil sumber daya tersebut
adalah perusahaan asing yang pada dasarnya tidak peduli dengan keadaan negara
kita. Kadangkala mereka berasal dari tanah air namun karena visi yang bengkok,
masyarakat lokal diabaikan. Padahal seharusnya sebaliknya sebagai rakyat
setanah air, sebangsa ini kita seharusnya pro lingkungan, pro masyarakat lokal,
bukan hanya fokus pada industri dan perdagangan global.
Kita memerlukan perbaikan visi, perubahan paradigma investasi, tidak
lagi memanfatkaan masyarakat lokal
dengan semena-semena. Kita memerlukan pemerataan kesejahteraan,
mendistribusikan kesenjangan.
Sidang
Keempat
Oleh Seterhen Akbar S.
Beliau merupakan pendiri dan CEO dari Riset Indie, lembaga
yang melakukan penelitian sosial, ekonomi, dan media, juga tempat penyaluran
aktivitas ide komunitas yang mudah. Ia melakukan riset dengan harapan memajukan
bangsa, contohnya dengan proyek "Angkot Day"-nya, yang memperbolehkan
penumpang menggunakan angkot Dago Kelapa dengan gratis dengan harapan
mengurangi kemacetan Bandung akibat angkot.
Ia juga mengajari bahwa inspirasi dapat ditemukan dimana
saja, inspirasi yang berdampak besar pada dunia. Kita juga sebaiknya mengalami
berbagai macam pengalaman karena hal itu akan memberi manfaat bagi kita, dan
juga menghargai pentingnya kolaborasi. Oleh karena kata-katanya yang
inspiratif, beberapa dari para mahasiswa baru memberikan standing applause.
Secara Keseluruhanseminar OSKM ITB 2013 sangat informatif
dan inspiratif. Tidak hanya kita mengetahui mengenai tata tertib kampus, kita
juga dapat mengetahui kondisi Indonesia saat ini juga bagaimana cara kita dapat
berkontribusi dalam mengembangkannnya menjadi lebih baik.
Oleh : Dewi
Nurfitri
NIM :
16713297
Fakultas :
FTI
No comments:
Post a Comment